Judul :
I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki
Penulis :
Baek Se Hee
Penerbit :
Penerbit Haru
Tahun Tebit :
2018
Jumlah Halaman :
232
“Salah satu cara untuk membuat diriku merasa bebas
adalah dengan menunjukkan sisi gelapku. Aku ingin orang-orang yang berharga
bagiku mengetahui kalau sisi gelap itu juga merupakan bagian diriku” Hal 11.
Buku ini berisi perjalanan pengobatan penulis yang
berjuang dengan distimia, yakni depresi dalam bentuk kronis dalam jangka
panjang. Pengidap distimia ini memiliki kecenderungan berfikir yang unik, cenderung
berpikir terpolarisasi, mudah menggeneralisasi keadaan, selalu menyalahkan diri
atas apa yang terjadi, merasa masa depan dalam bayangan buruk, membaca pikiran
orang lain dengan penilaian kita, mengunakan emosi sebagai landasan berfikir,
menilai sesuatu berdasarkan sudut pandang negative, memiliki perasaaan
kontradiksi yang dirasakan bersamaan.
Buku ini memberikan banyak informasi beberapa istilah
psikiatri, yang terkadang membuat daya cocoklogi kita hadir tanpa diminta, eh
kok aku kayaknya gini ya (wkwk). Harap diingat gaess, kita tidak bisa
mendiagnosis diri kita sendiri, ada pihak yang berwenang dan kompeten dalam hal
itu.
Bagi saya membaca tanya jawab penulis dan psikiater
terasa sedikit melelahkan dan menyenangkan dalam waktu yang bersamaan.
Melelahkan karena saya merasakan kehidupan penulis dengan distimianya begitu
melelahkan dengan segala rasa kekhawatirannya dalam berbagai hal, seringnya
merasa tak percaya diri, merasa takut dengan penilaian orang mulai dari
kehidupan sehari-hari hingga penampilan, merasa takut ditinggalkan dan dalam
waktu bersamaan ingin meninggalkan. Menyenangkan, karena dari tanya jawab penulis
dan psikiater merupakan proses mencari apa penyebab dan bagaimana cara
mengatasi perasaaan yang dialami oleh penulis.
Berdasarkan pengalaman penulis tentang bagaimana
kehidupannya dipengaruhi distimia, dari sini dapat diyakini bahwasanya kita
harus mampu mencintai diri kita sendiri, belajar dan berusaha untuk menerima
diri apa adanya, merubah sudut pandang menjadi lebih positif, bergerak mencoba banyak hal baru, dan masih
banyak hal positif lainnya yang harus terus diupayakan.
“Kehidupan adalah suatu proses pembelajaran untuk
menerima hal-hal yang terjadi pada kita. Kemampuan menerima dan pasrah bukanlah
sesuatu yang bisa muncul hanya pada masa-masa tertentu dalam hidup saja. Kedua
hal itu adalah tugas yang harus dipelajari dan dilatih terus-menerus selama hidup”.
Hal 201

Tidak ada komentar:
Posting Komentar