• Review buku “I Have A Dream” Arif Rahman Lubis







    Judul Buku                  :    I Have A Dream

    Penulis                        :    Arif Rahman Lubis

    Penerbit                      :    QultumMedia

    Tahun Terbit               :    2014

    Jumlah Halaman         :    222   


    Awalnya merasa sedikit ragu mengikuti tantangan komunitasbacabuku dengan mereview buku ini, tapi hanya buku ini yang saya punya yang sesuai dengan kriteria yakni buku dengan cover berwarna kuning. Ragu karena merasa sedikit terlambat membaca dan meresapi buku ini, diakhir usai membaca buku ini saya yakin bahwasanya setiap orang perlu untuk mendesain ulang desain hidup dan tujuan hidup mereka, karena hiru pikuk kesibukan dan kehidupan yang penuh dengan gangguan, buku “I Have a Dream” karya Arif Rahman Lubis ini bisa mengingatkan kembali cita-cita, tujuan hidup, dan desain hidup kita. 

    Sesuai dengan judul nya, buku ini mengajak kita untuk berdiskusi secara mendalam tentang mimpi dan cita-cita. Mengajak kita mendesain merumuskan impian dan target kita menjadi sesuatu yang lebih jelas. Dengan rumus “SMART”: Spesifik, Measurable, Achievable, Relevant, dan Timebound. Memotivasi kita untuk terus belajar dan mengembangkan diri.

    Buku ini menggabungan tema pengembangan diri dan keyakinan (agama), menyajikan kisah-kisah teladan dan inspiratif: utusan-utusan Allah, sahabat-sahabat nabi, dan secara umum banyak kisah-kisah sukses para tokok dunia.

    Buku ini cocok untuk dibaca siapapun karena secara garis besar buku ini memberikan kita gambaran dari kisah-kisah inspiratif tersebut bagaimana tokoh sukses dunia memaknai hidup, menyikapi segala kekurangan, kegagalan, ujian, dan segala hambatannya. Bagaimana mereka selalu memiliki solusi dari setiap permasalaahn yang ada, yakin dan tidak pernah putus asa bahwa manusia terlahir dengan segala potensi baik dalam dirinya.

     Berikut beberapa kalimat dan kata motivasi yang sangat membekas bagi saya:

    “ … tanpa sadar kita terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk, dan terus sibuk lalu melupakan perbaikan diri dan perbaikan cara kita berusaha. Kita lupa untuk menambah pengetahuan, meluaskan wawasan, dan mengasah keahlian”. (hlm 191)

    “ Seperti anak panah yang harus ditarik kuat-kuat ke belakang. Seperti itulah hendaknya kita memandang diri jika Allah memberikan ujian berupa ujian musibah dan kegagalan. Kita ditarik kebelakang agar bisa melesat cepat ke depan. Kita dibawa turun agar punya pijakan kuat untuk melompat”. (hlm 174)

    “ Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup dan mati sebagai orang yang kerdil. Orang yang hidup bagi orang lain akan hidup dan mati sebagai orang besar” -Sayid Qutbh- (hlm 138) 

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Postingan Populer