• Review Novel Pulang - Leila S.Chudori

    Buku Pulang Leila S. Chudori

     

    Judul Buku                      : Pulang

    Penulis                            : Leila S. Chudori

    Penerbit                          : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

    Tahun Terbit                    : 2012

    Jumlah Halaman              : 460 Halaman

     

    "Rumah adalah tempat dimana aku merasa bisa pulang".

    "Rumah tujuan kita, sebuah tempat yang akan memeluk kita" Robert Frost.

    Setelah merasa pensiun beberapa tahun membaca novel, dan mulai kehilangan minat dengan genre fiksi akhirnya novel “Pulang” menjadi novel pertama yang saya baca, jumlah halaman buku yang tidak bisa dibilang tipis, dengan senang hati sudah saya khatamkan. Lika liku ceritanya sukses membuat saya terhanyut seakan menonton film.

    Bagi saya kata pulang adalah kata yang indah dan syahdu, sejauh apapun melangkah kata pulang menenangkan kita bahwa ada tujuan untuk kembali, ada rumah dan orang-orang yang kita sayangi di dalamnya yang siap menyambut dengan pelukan hangat setelah segala riuh hiru pikuk, peluh, perjuangan dan air mata yang terasa sangat melelahkan telah kita lewati seharian penuh. Tapi, bagaimana jika kita tak pernah bisa pulang? Terasa begitu menyesakkan bukan, terhimpit rindu? Begitulah yang dihadapi Dimas Suryo dan teman-temannya.

    Bercerita tentang sekumpulan anak muda yang memiliki pemikiran kritis, bekerja pada sebuah media, yang cukup vokal mengkritisi pemerintahan orde baru hingga akhirnya membuat mereka berlima menjadi target untuk dihilangkan. Dimas Suryo dan ketiga rekannya ditugaskan kantor untuk keluar negeri ditengah mulainya hiru pikuk G-30 SPKI hingga ia terdampar di Paris tanpa pernah tau kapan ia bisa pulang.

    Saya hanyut dengan bagaimana penulis menggambarkan tokoh beserta latar waktu yang terjadi. Tidak hanya cerita tentang persahabatan, percintaan, dan keluarga yang saya dapatkan tapi juga bagaimana keadaan Indonesia saat kepemimpinan Presiden Soeharta dan Orde Barunya, bagaimana mahalnya menyampaikan aspirasi, jangakan menyampaikan kritikan baru akan membuka mulut saja sudah dilibas tak berjejak. Sejarah kelam G 30 SPKI menjadi latar waktu dan ide cerita utama yang kemudian berlanjut dengan peristiwa Mei 1998.

    Setiap pemeran dalam novel ini memiliki warna tersendiri, teknik penokohan karakter dalam novel ini bagi saya sungguh kuat, setiap pemeran masuk ke otak dengan sempurna. Pemilihan Sudut pandang yang unik dalam teknik penyampaian, lengkap mulai dari sudut pandang orang pertama, ketiga hingga campuran menjadi keunikan tersendiri bagi novel ini. Setiap tokoh diberi ruang untuk bercerita, tidak hanya fokus pada pemeran utama, ini membuat saya sering bertanya-tanya versi siapakah yang sedang bercerita?.  Alur cerita yang maju mundur seringkali membuat penasaran, kenapa tokoh ini begini dan begitu, menjadi pertanyaan yang seakan melarang untuk berhenti membaca.

    Dari sekian banyak yang saya kagumi dari novel ini, ada beberapa hal cukup menganggu saya pada bagian percintaan yang dikemas dengan bahasa dan cerita yang cukup vulgar, padahal novel dengan tema sejarah cukup jarang keberadaanya, dan sangat pas untuk memantik rasa ingin tau generasi milenial. Terlepas dari hal ini, bagi saya yang baru bisa membaca di akhir tahun 90an, novel ini mampu sedikit menjawab rasa penasaran saya apa yang terjadi selama pemerintahan era orde baru, hingga bagaimana pemerintahan 33 tahun itu bertenger dengan sempurna. Rasanya begitu menyedihkan jika kisah perjuangan, darah dan air mata yang menemani perjalanan Indonesia tidak kita ketahui. Hanya berhenti begitu sajakah kisah perjuangan itu, rasanya sangat menyedihkan jika para generasi bangsa tak mengetahuinya. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya?.


    "Meski tak punya apa-apa selain kebaikan, kami akan tetap bertahan dalam hidup" hal.290

    "Aku terbang seperti burung camar tanpa ingin hinggap, akibatnya nasib yang memilihku, bukan aku yang menentukan nasib"hal 446. 


                                                                                        Salam Literasi.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Postingan Populer