• Review Buku Senandung Talijowo - Sujiwo Tejo

     

    Buku Senandung Talijiwo - Sujiwo Tejo

    Judul Buku            : Senandung Talijowo
    Penulis                  : Sujiwo Tejo
    Penerbit                : PT Bentang Pustaka
    Tahun Terbit         : 2019
    Jumlah Halaman   : 220


    "Ternyata mencintai bukanlah cara untuk berbahagia. Mencintai tak lain cuma percobaan-percobaan kecil untuk melukai diri sendiri agar kelak tabah menghadapi luka, kekasih"

    Potongan kalimat yang terpampang di cover buku ini membuat saya mengira bahwa buku ini, berisi nasihat dan cerita tentang patahnya hati. Eitz ... bukan, ternyata buku ini tidak sesendu perkiraan saya, tidak hanya membahas dunia percintaan tapi juga menggabungkannya dengan hal-hal kritis politik, dan isu terkini yang terjadi.

    Perpaduan cinta, kehidupan sosial dan politik dikemas dengan porsi yang pas dalam bentuk potongan kisah dengan pemeran utama bernama Sastro dan Jendrowati, kita akan menemukan banyak sekali topik pembicaraan Sastro dan Jendrowati yang tak ada habisnya, mulai dari hal remeh temeh sampai krusial gonjang ganjing negara kita. Beberapa diantaranya masalah zonasi penerimaan peserta didik, surat keterangan tak mampu yang dipalsukan, wakil rakyat yang tak peka, hasil pilkada, dan masih banyak lainnya yang kesemuannya dikemas dalam bahasa humor yang cukup dapat memberi tawa ketika membacanya. Debat demi debat Sastro dan Jendrowati, terasa sangat kritis dan berbobot. Terasa begitu berat beban hidup Sastro (wkwk) memadu kasih dengen Jendrowati yang pandai mengkritisi setiap kata yang disampaikan Sastro, tapi bagi Sastro itu membuatnya bergairah bercerita banyak hal kepada Jendrowati. Kesan humor dalam buku ini sangat kental, namun tidak membuatnya hambar akan pesan dan nasehat. Dikemas dengan begitu kritis menyuguhkan isu politik yang sarat akan warna warni tak bisa ditebak.

    Sujiwo Tejo sangat lihai membuat tangis menjadi tawa. Jika menyebut Sujiwo Tejo maka pertama yang teringat adalah sosok seorang dalang yang pandai menyampaikan pesan kehidupan dengan gayanya yang nyentrik, selain itu saya cukup terngiang dengan quote beliau "Khawatir besok tak bisa makan, adalah bentuk penghinaan terhadap Tuhan" makjleb kan.

    Dalam hal penempatan tokoh, saya sempat merasa bingung ketika beranjak dari satu kisah ke kisah selanjutnya, pasalnya saya mengira bahwa kisah dalam buku ini beruntun menempatkan Sastro dan Jendrowati sebagai pasangan kekasih, tapi sering kali mereka tidak menjadi sepasang kekasih dalam setiap kisah, bahkan menjadi kakak adik, pemain musik dan bu lurah, mantan pasangan yang sudah berpisah dan masih banyak lagi metamorfosis hubungan Sastro dan Jendrowati.

    Gaya penulisan buku ini, kadang memberi kesan ringan namun kadang perlu dibaca berulang agar paham. Begitu mewah dinikmati sebagai pelepas penat diujung hari. Kisah-kisah yang disuguhkan membuat dahi mengeryit dan berguman "Sebentar... ini maksudnya bagaimana ya?" rasa ini, bagi saya membuat proses membaca menjadi makin seru. Sangat cocok untuk teman-teman yang punya selera humor dan suka membaca berita baik politik maupun sosial namun, untuk teman-teman kurang suka dengan humor yang terkesan absurd, alur dan gaya penulisan yang tidak runut, mungkin buku ini bukan jawaban atas keinginan anda. 

    "Mungkin gagal adalah cara manusia menamai hasil yang sesuai kehendak Nya, tetapi tak sesuai keinginannya, kekasih".

    "Jangan cuma kata yang diomongkan ke rakyat, data bisa dibuat-buat. Perasaaan? itu yang semestinya disampaikan, perasaan tak bisa dibuat-buat".


    Salam Literasi!

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Postingan Populer