Judul :
Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya
Penulis :
Rusdi Mathari
Penerbit : Buku Mojok
Tahun Tebit : 2016
Jumlah Halaman : 224
Buku ini berkisah tentang kehidupan di desa Ndusel
dengan berlatar waktu Ramadhan.
Cak Dlahom tokoh utama dalam cerita ini, sosok komentator kehidupan, yang pandai menelaah subtansi makna ibadah dalam sehari hari, pemikiran dan perilakunya yang jauh dari kata biasa membuatnya dinilai gila oleh warga kampungnya. Bagaimana tidak ia sering mempertontonkan tingkah yang sungguh diluar kebiasaan orang pada umumnya.
Sebut saja pada kisah kematian istri Bunali, betapa ia menangis tersedu-sedu dan bibirnya tak berhenti berkata-kata “Ya Allah ampuni aku, ampuni seluruh warga kampung ini”. Cak Dlahom merasa sangat bersalah atas kematian istri Bunali, ia janda yang hidup dengan kesusahan serta sakit-sakitan hingga memilih bunuh diri sebagai jalan mengakhiri hidupnya, meninggalkan Sarkum, menjadi anak yatim piatu sebatangkara yang jangankan untuk melanjutkan pendidikannya, bagaimana hendak makan pun ia tak tahu.
Kisah ini semakin mengharu biru ketika Cak Dlahom
membawa tanah kubur istri Bunali itu ke masjid seraya berteriak-teriak ingin
menyumbangkan tanah kubur istri Bunali, sebagai bentuk wakaf pembangunan
masjid, sebagaimana wasiat istri Bunali karena ia tak punya apa-apa.
Tindakan Cak Dlahom ini adalah bentuk kritik terhadap para pejabat dan warga desa yang sibuk membuat masjid, sementara kisah-kisah pilu yang perlu empati dan perhatian terhadap warga desa yang kesulitan untuk bertahan hidup pun luput dari perhatian.
Begitulah Cak Dlahom, pandai membuat semua orang untuk berfikir dan memperbaiki ibadahnya. Segala tingkah Cak Dlahom bagi saya sungguh mengharu biru, kadang saya tertawa dan kemudian menitikan air mata, membuat saya berdecak kagum beginikah seharusnya kita bisa memaknai subtansi ibadah penghambaan kita kepada Allah Swt.
Tokoh lain yang mencuri perhatian saya adalah Mat Piti, bagaimana ia memperlakukan dan menganggap cak dlahom tidak gila, seperti mengajarkan kita untuk selalu berbaik sangka terhadap apapun.
Sanggat direkomendasikan untuk setiap jiwa yang
sedang mencari makna kehidupan. Setiap baris dalam buku ini selalu membuat saya bersemangat untuk terus membacanya, bahkan setelah khatam membaca saya merasa kehilangan dan merindukan sosok Cak Dlahom. Hingga saat ini sebagai pengobat rindu saya berburu semua karya Alm. Rusdi Mathari. Semoga Allah melapangkan jalan beliau.
“Bagaimana kamu akan mengenali Allah, sementara salatmu baru sebatas gerakan lahiriah, sedekahmu masih kau tulis dipembukuan laba rugi kehidupan, ilmumu kau gunakan mencuri atau membunuh saudaramu. Kamu merasa pintar, sementara bodoh saja tak punya” hal 24

Tidak ada komentar:
Posting Komentar