• Review Buku Muslimah yang Diperdebatkan - Kalis Mardiasih

    Buku Muslimah yang Diperdebatkan Kalis Mardiasih

    Judul Buku                      : Muslimah yang Diperdebatkan
    Penulis                            : Kalis Mardiasih
    Penerbit                          : Buku Mojok
    Tahun Terbit                    : 2019
    Jumlah Halaman              : 184 

    Oh Mbak Kalis Mardiasih, sungguh membuat saya terhentak dengan segala pemikirannya, setiap halaman yang saya baca membuat saya menyadari, ada sudut pandang yang harus diperbaiki tata letaknya (wkwkw). Betapa tidak, konsep hijrah pun masih saya hukumi dari tampilan panjang hijab yang digunakan "eh si ini jilbabnya sekarang lebar ya, alhamdulillah ya udah hijrah" padahal hijrah bermakna luas, tidak hanya jilbab yang bertambah panjang dan baju yang bertambah longgar. 

    ''Terlalu remeh menyetarakan kesalehan dengan selembar kain tipis dikepala" hal. 12

    "Kita tidak bisa menghakimi amal seorang perempuan lebih banyak atau lebih sedikit dari kerudung yang ia pakai" hal.134

    Dari bab fenomena hijab syari'i ini saya merasakan apa yang tersampaikan dalam buku ini, bahwasanya ada konsekuensi sosial yang harus dipukul dengan adanya kerudung di kepala. Jika ada perilaku sikap dan tindakan yang dihukumi salah oleh masyarakat, tapi dilakukan baik sengaja ataupun tidak sengaja oleh pemakai hijab tak jarang akan mendengar penilaian buruk seperti: "Pakai jilbab kelakuan bar-bar, malu dong sama jilbabnya". 

    Penilaian ini seakan hijab yang melekat di kepala dengan serta merta membuat kita tak boleh salah bak bidadari surga yang segala tingkah polahnya penuh kebenaran, padahal tidak demikian kami para pemakai hijab hanya manusia biasa yang sedang berproses memperbaiki diri dan sedang berusaha menunaikan kewajiban, yang dalam prosesnya tak semulus jalan tol. Iman naik turun bak roller coster menghadapi realita-realita kehidupan. Jadi tolong warga bijak jangan melekatkan konsekuensi sosial yang berat untuk pemakai hijab, hingga teman-teman kami yang ingin berhijab ketar ketir untuk memakainya hingga bertagline "Mau jilbabin hati dulu sebelum pakai hijab" Ya Rabb.

    "Kain panjang yang membalut tubuh perempuan, mau tak mau memang bukan hanya soal aturan yang mengikat fisik. Lebih jauh lagi, ia juga mengontrol identitas gender perempuan. Jika jilbab adalah konsekuensi penghambaan muslimah, didalam sebuah ruang budaya pada tempat ayat perintah itu turun, muslimah yang memakai jilbab mendapat konsekuensi tambahan mulai dari suara, gerak gerik tubuh, dan tentu saja aktivitas yang ia perbuat"

    "Jika perempuan berjilbab menyumbangkan kiprah, itu karena ia mampu mengambil peran, dan bukan sebab jilbabnya. Sebaliknya, jika perempuan berjilbab melakukan tindakan tercela, itu terjadi karena pilihan sikap yang tidak tepat dan bukan sebab jilbabnya" hal 48.

    "Negara yang masih kuat norma agamanya sering berpikir bahwa simbol-simbol agama yang dikenakan seseorang membuatnya menjadi lebih salih" Hal 45.

    Penjelasan, pemaparan fakta-fakta serta kritik akan suatu fenomena yang belakangan ini menjadi tren seperti: hijab syar'i, kontes hijab, hijrah, nikah muda dipaparkan dengan kritis penuh tanya disertai nada tegas "Tidak adakah hal yang lebih penting yang bisa didiskusikan, diperdebatkan dan dicarikan solusi?". 

    Pada bab Gerakan Indonesia tanpa pacaran, penulis memberikan prespektif kritis dari konten kampaye gerakan tersebut yang disandingkan dengan fakta banyaknya pernikahan dini yang kandas karena KDRT yang korban utamanya tak lain dan tak bukan adalah perempuan. Kesiapan psikologis dan finansial adalah poin penting yang luput dari perhatian dalam menyiapkan rumah tangga yang sehat. Konsep akil baligh yang sering tak dikaji lebih mendalam membuat bahtera rumah tangga porak poranda sebelum sampai tujuan.

    "Kampanye anti pacaran tidak dilakukan dengan menyebarluaskan konten progresif, seperti bagaimana kecerdasan dan keterampilan anak muda sebaiknya dikembangkan untuk masa depan dirinya dan dunia yang semakin kosmopolit..." hal 142.

    Penyampain penulis dengan bahasa khas anak muda dan disertai humor ringan membuat buku ini nikmat dibaca. Bagi saya buku ini tak cukup satu kali baca karena sudut pandang kritisnya yang sangat seru untuk direnungi berkali-kali.


    Salam Literasi.

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Postingan Populer