Judul Buku : Totto Chan Gadis Cilik di Jendela
Penulis : Tetsuko Kuroyanagi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2008
Jumlah Halaman : 272
Saat ini banyak pakar pendidikan dan profesional parenting yang menggaungkan setiap anak punya warnanya tersendiri, bahkan perumpamaan jangan membandingkan ikan dengan burung, ikan tak bisa terbang, burung tak bisa berenang sudah tak asing di telingga. Anak-anak punya kesukaan, ketertarikan, bakat dan minatnya masing-masing.
Buku ini kehadirannya bak mengkritik sistem pendidikan yang tak habis untuk diperdebatkan ketidaktepatan fungsi sebagai wadah untuk mengenali bakat dan minat peserta didik, seakan pendidikan memiliki satu tujuan menjadikan semua ikan di laut, padahal ada yang tak bisa berenang tapi jago berlari kencang, ada yang jago terbang tak bisa berenang. Menempatkan burung di sungai agar berenang sama saja membunuhnya secara paksa.
Buku ini merupakan pengalaman nyata penulis, Tetsuko Kuroyanagi atau Totto Chan (nama kecil) bersekolah di "Tomoe Gakuen" sebab sebelumnya ia dikeluarkan dari sekolah karena dianggap nakal, penyebab kekacauan saat pelajaran, dan tak bisa menuruti guru pengajarnya. Hal yang terbesit saat membaca kisah ini, pasti ibu Totto Chan pusing sekali memikirkan anaknya yang sangat spesial ini.
Si ibu pun heran mengapa anaknya yang begitu manis, yang periang, aktif, namun sesekali menjadi pendiam bisa dikeluarkan dari sekolah. Alih-alih memarahi Totto Chan karena dikeluarkan dari sekolah, ibu Totto Chan justru merahasiakan penyebab Totto Chan pindah sekolah ke Tomoe Gakuen, karena ia tak ingin Totto Chan bersedih dan merasa bahwa dirinya bukan anak yang baik.
Bagi Totto Chan dan teman-teman sekolahnya, bersekolah di Tomoe Gakeun adalah berkah yang sangat luar biasa, tiada hari tanpa bersemangat sekolah, bahkan tak ada kata bosan belajar disekolah, dan selalu ingin cepat pagi agar bisa ke sekolah.
Tomoe Gakeun memiliki konsep dan kurikulum pengajaran yang sangat berbeda dengan sekolah pada umumnya. Kelasnya terbuat dari gerbong bekas kereta di alam terbuka, bahkan sering materi pembelajaran langsung diajarkan di alam terbuka. Setiap pagi anak-anak dibebaskan memilih pelajaran yang paling mereka sukai untuk dipelajari di awal pagi, dari konsep ini anak-anak sudah diarahkan untuk mengetahui apa yang menjadi minat mereka, tentunya hal ini membantu mereka mengembangkan bakatnya.
Di sekolah Tomoe Gakuen, Totto Chan mendapat teman yang berbeda secara fisik, Yasuaki Chan namanya. Ia mengalami polio walaupun begitu, Yasuaki Chan tumbuh menjadi anak yang baik dan percaya diri berkat sistem pengajaran di sekolah Tomoe Gakuen. Disini saya sangat kagum dengan Mr. Kobayashi pendiri sekolah Tomoe Gakuen, ia sangat handal menyesuaikan materi pelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Ia pun juga pandai menempatkan diri sebagai sahabat anak-anak disekolahnya, tak ayal Mr Kobayashi sangat dicintai anak-anak, bahkan ia tidak pernah marah terhadap ulah murid-muridnya, walau terkesan sangat menyebalkan bagi orang dewasa pada umumnya.
"Mr. Kobayashi berusaha menemukan watak baik setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas"
"Anak-anak yang diberi pengaruh yang tepat oleh orang dewasa, akan bisa menjadi pribadi yang pandai menyesuaikan diri".
Membayangkan Totto Chan yang lucu, manis dengan segala tingkahnya yang unik membuat saya tertawa dan terharu membaca kisahnya. Ia anak yang periang, memliki empati yang sangat kepada teman-temanya, tulus, suka berbicara kepada apa saja yang dilihatnya termasuk anjing peliharaannya Rocky, menjadi temannya bermain. Pernah suatu hari Totto Chan terluka cukup parah akibat bermain dengan Rocky, namun ia tak pernah membenci Rocky, justru ia berusaha memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja agar orang tua nya tidak memarahi Rocky.
Banyak pula kisah unik lainnya dibuku ini, yang paling saya ingat adalah bagaimana Totto Chan mengajarkan ketulusan dan kepedulian terhadap teman-temannya terlebih untuk teman-temannya yang memiliki fisik yang spesial, pun bagaimana ia mengikhlaskan Takashi yang tak mau menikah dengannya (wkwk), dan tetap meraut pensil-pensil Takashi setiap pagi. Uhh sungguh pelajaran mencintai menyayangi dengan tulus dan ikhlas dari anak kecil ini begitu sederhana.
Setiap kisah Totto Chan dalam buku ini mampu membuat saya terus penasaran, menerka apa maksud pelajaran dengan konsep demikian. Saya mengenal buku ini dari teman saya yang berkuliah di jurusan pendidikan anak sekolah dini, dan ternyata memang menjadi buku referensi untuk dunia pendidikan. Sangat rekomen untuk teman-teman yang sedang belajar parenting, mempersiapkan anak-anak yang luar biasa! ^^
Salam Literasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar