Judul : Laki-Laki yang Tak Berhenti Menangis
Penulis : Rusdi Mathari
Penerbit : Buku Mojok
Tahun Terbit : 2019
Jumlah Halaman : 112
Selepas membaca buku Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya, saya begitu merindukan sosok Cak Dlahom, terasa begitu sulit untuk move on (hehehe) maka saya putuskan untuk berburu karya Alm. Rusdi Mathari. Pilihan pertama jatuh pada buku "Laki-Laki yang Tak berhenti Menangis" mengapa buku ini? karena judul buku ini begitu membuat saya penasaran, terbit tanya mengapa dan mengapa laki-laki itu tak berhenti menangis? tersebab patah hati kah? ditinggal sesorang yang dicintainya kah? atau terpaksa harus meninggalkan? dan ternyata...
Menurut saya, buku ini lebih dari sekedar kumpulan kisah dan pengalaman hidup Rusdi Mathari. Kisah-kisah dalam buku ini mengajak kita untuk berinstropeksi diri. Bagaimana kita beragama menjadi refleksi mendalam melalui kisah-kisah dalam buku ini, sebut saja kisah berjudul "Cathala" yang membahas mengenai pembangunan masjid di Kota Creteil sebuah kota di sebelah tenggara Paris, Perancis yang ditentang hampir oleh seluruh penduduk dan pemerintah negara-negara Eropa. Berbeda sikap Laurent Cathala wali kota Creteil saat itu, ia tak hanya mendukung tapi juga turut membiayai pembangunan kompleks masjid, dengan kritis Cak Rusdi membandingkan peristiwa ini dengan yang terjadi di Jakarta, mendirikan rumah ibadah bagi kaum minoritas juga menjadi hal yang sulit untuk diwujudkan, pun sulit ditemukan wakil rakyat yang dapat bersikap netral akan permasalahan minoritas dan mayoritas yang sering kali menjadi pemantik konflik.
Kisah lainnya yang menarik perhatian saya, pada kisah berjudul Agama. Pada bagian ini Cak Rusdi menceritakan latar belakang keluarga dan lingkungannya, bagaimana Ia dibesarkan oleh orang tua yang Muhammadiyah dan lingkungan nya yang NU. Saya kagum bagaimana orang tua Cak Rusdi mendidik anak-anaknya dengan keberagaman Muhammadiyah dan NU, tanpa merasa paling benar, damai sekali kehidupan dengan perbedaan yang berdampingan. Tak seperti saat ini, perkara kafir mengkafirkan menjadi hal yang sering terdengar, merasa paling benar pun sering kali terngiang.
Gaya penyampaian sederhana dan penuh makna adalah kelebihan Cak Rusdi yang saya temukan dalam dua bukunya yang sudah saya baca. Menyampaian bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, santun, ramah dan lembut melalui pemaparan kisah-kisah yang sarat makna, tersampaikan dengan bahasa beliau yang sederhana. Beberapa kisah dalam buku ini saya temukan juga dalam buku Cak Rusdi sebelumnya, yang disampaikan dengan gaya yang berbeda.
Dalam bagian kisah-kisah ini, saya merasakan kata pamit dari Beliau, semoga segala amal ibadah beliau diterima Allah, dan dilapangkan jalannya. Terima Kasih Cak, untuk karya-karya yang sangat mengispirasi.
"Tidakkah selain kelahiran, salah satu perayaan terbesar manusia adalah kematian?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar