Judul Buku : Juragan Haji
Penulis : Helvy Tiana Rosa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2014
Jumlah Halaman : 181 Halaman
"Aku akan mencintaimu selamanya, seperti aku mencintai surga" Puisi Abdurahman Faiz pada hal. 18.
Kumpulan 17 cerita pendek yang dikemas dengan tema kemanusian, kekerasan terhadap perempuan, sosial dan perjuangan. Menyuguhkan latar waktu peristiwa yang benar terjadi seperti penjajahan, peperangan, konflik antar suku, perpecahan di daerah dan sebagainya. Latar waktu peristiwa nyata ini diramu dengan cerita yang seakan juga begitu nyata. Perpaduan kata demi kata bak syair yang meminta kita untuk bebas berimajinasi. Bagi saya kata ataupun pengambaran cerita dalam cerpen ini merupakan sastra tingkat tinggi, perlu energi untuk mencerna.
Sebagian besar dari ke 17 cerpen ini tidak mengambarkan ending yang pasti, penulis seakan membebaskan kita menerka sendiri akhir dari kisah yang telah disampaikannya. Sebut saja cerpen yang berjudul Juragan Haji bercerita tentang Mak Siti yang bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga kaya raya yang sudah berkali-kali pergi haji dengan mudahnya, sementara bagi Mak Siti naik haji adalah perkara yang sulit untuk terwujud. Bagaimana tidak gajinya yang hanya 80 ribu rupiah perbulan terasa tidak mampu menghantarkannya mewujudkan impiannya naik haji. Pada akhir certa tidak diceritakan apakah Mak Siti akhirnya berangkat haji atau tidak, kisah hanya berhenti pada lamunan Mak Siti yang sangat ingin naik haji bersama dengan ibunya yang juga memiliki mimpi yang sama.
Setiap judul cerpen pada buku ini seakan mengajak untuk mencerna maksud dari cerita yang disampaikan oleh penulis. Pada cerpen pertemuan di taman hening mengisahkan Kas dan Sih yang saling mencintai diawal pernikahan hingga seiring berjalannya waktu Kas berubah hingga melakukan kekerasan terhadap Sih. Bagaimana sosok Sih begitu sangat terluka dengan perubahan sang Suami hingga sering berkunjung ke taman hening (entah apa yang dimaksud taman hening, taman lamunan Sih kah? mungkin.) menemui sosok yang digambarkan sesuai dengan apa yang diinginkannya dan terkadang sama dengan gambaran Kas, suaminya. Timbul tanya siapa, lelaki yang dimaksud? sosok fiktif dari lamunan Sih kah? atau benar selingkuhan Sih?
Berbicara tentang kemanusian dan konflik, tak usah ditanya pendiri komunitas Lingkar Pena ini terkenal piawai mengangkat tema tragedi kemanusian. Mayoritas kumpulan cerpen ini, menggambarkan tragedi kemanusian dari berbagai penjuru, seperti: kekejaman penjajahan masa kolonial Belanda terhadap warga pribumi di Indonesia, Konflik perpisahan Timor Leste & Indonesia, konflik suku Dayak dan pendatang, Kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina, kejahatan Genosida tentara Serbia terhadap penduduk Srebrenica. Dikemas dengan diksi yang begitu menyayat hati seakan mencabik-cabik nilai kemanusian kita. Perang dan tema-tema kemanusian bukanlah topik yang ringan untuk dibahas, bagaimana mayoritas kumpulan cerita ini bercerita tentang peperangan, pertumpahan darah, kekejaman, kebengisan yang tiada hati seakan begitu pedih dan perih dibayangkan.
Dalam kisah Lorong Kematian tentang sejarah kelam dunia, pembunuhan genosida yang terjadi terhadap penduduk Bosnia yang mengungsi ke daerah Srebrenica pada tahun 1995. Kebengisan tak bernurani tentara Serbia menghabisi warga sipil Bosnia selepas peperangan pembersihan etnis pada tahun 1992, padahal daerah Srebrenica dinyatakan sebagai daerah aman oleh PBB dan dijaga oleh ratusan tentara penjaga perdamaian, nyatanya usaha PBB ini tak mampu menjaga 8.000 nyawa penduduk Bosnia yang menjadi korban kejahatan Genosida Serbia. Sejarah kelam yang disampaikan dalam kisah ini bagi saya begitu pilu dan menakutkan, membayangkan bagaimana kejadian ini terjadi kala itu, anak dipisahkan dari ayahnya, istri dipisahkan dari suaminya, teriakan-teriakan yang digambarkan dalam kisah ini seakan mendegung begitu nyata dan pilu.
Tak berhenti disitu kisah menyayat hati selanjutnya dalam kisah Hingga Batu Bebicara tentang sosok gadis kecil yang beranjak remaja hanya berbicara kepada batu. Ia adalah gadis kecil yang menyaksikan bagaimana Ayah dan Ibunya dibunuh dengan bengis oleh tentara Israel dan rumahnya dihancurkan kemudian diambil oleh warga sipil Israel. Kini ia sebatangkara dan dicap gila.
"Mereka batu-batu ini akan membinasakan kalian, sebagaimana kalian membinasakan kami" Hal. 75
Selain tentang peperangan dan konflik kemanusian, ada kisah-kisah lain yang bertemakan cinta yakni dalam kisah: Titin Gentayangan yang menceritakan tentang usaha Titin mengobati patah hatinya karena kekasihnya menikahi wanita lain yang lebih pintar dan lebih kaya darinya. Ia berusaha mengobati patah hatinya dengan bunuh diri dan entah mengapa selalu saja gagal. Ada pula kisah yang bertemakan kritik sosial, dalam kisah Lelaki Kabut dan Boneka bercerita tentang manusia yang tak berhati, serta dalam kisah Mencari Senyum menceritakan lelaki tua yang mencari senyum yang hilang dari kotanya. Dan masih banyak lagi kisah baik lainnya yang bisa menjadi asupan gizi bagi otak dan hati. Penduduk dunia sudah terlalu tak berhati untuk bumi yang selalu merindukan orang-orang berhati.
Selamat membaca, Salam Literasi ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar