• Review Buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan - Ester Lianawati

     


    Judul buku       : Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan

    Penulis              : Ester Lianawati

    Penerbit            : Buku Mojok Group

    Tahun Terbit    : 2020

    Halaman           : 292

     

    Buku ini sukses membuat saya penasaran selain karena judulnya yang membuat bertanya-tanya serigala betina macam apa dan seperti apa yang dimaksud ada pada diri perempuan? juga dari beberapa review pembaca sebelumnya yang menjelaskan bahwa buku ini membicarakan feminisme dalam ilmu psikologi, yang cukup jarang keberadaanya.

    Harus saya akui bahwa saya cukup kesusahan memahami buku ini dibagian awal karena banyak sekali penjelasan mengenai teori-teori psikologi feminis, yang cukup membuat saya mengelus dada dan beristighfar “masak iya, gini kali teorinya”

    Akhirnya pada bab setelah penjabaran teori-teori psikologi feminis ini berlalu, saya mulai bisa mencerna dengan sedikit lebih baik. Beberapa point yang bisa saya garis bawahi dari buku ini diantaranya:

    Teori Sabina Spielrein sangat berbeda dengan teori–teori yang sebelumnya yang meyakini bahwa karakteristik utama psike feminin adalah pasif. Sabina Spielrein mengemukakan bahwa psike feminism memiliki karakteristik aktif dan dinamis, yakni perempuan memiliki kemampuan berempati yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, ia mampu memahami dan merasakan pengalaman serta pemikiran orang lain. Menurut saya teori ini sesuai dengan kenyataan yang ada bahwa perempuan lebih cenderung memiliki sisi perasa dan ketidak tegaan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, hal ini bisa dilihat dari lingkup kecil keluarga bagaimana ibu lebih perhatian kepada anaknya bahkan dalam hal-hal yang cenderung sepele.

    Kemudian pada sub bab interpretasi ulang melawan budaya yang sakit. Seperti yang kita ketahui budaya patriarkis yang tak sesuai dengan porsinya menempatkan perempuan pada kesakitannya.

    “Reinterpretasi membantu perempuan untuk meciptakan diri yang baru, yang mampu memutuskan cara terbaik untuk dapat menjadi sejahtera tanpa mengikatkan diri pada tuntutan masyarakat”.

    Melalui kisah Kartini yang dijelaskan pada bab Kartini yang aku pahami, bagaimana arti penderitaan sukses ia reinterpretasi dengan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Sebagai keturunan bangsawan yang dapat menikmati pendidikan ia memanfaatkanya dengan belajar tekun. Melalui surat menyurat kepada teman-temannya di Belanda ia mengemukakan kritiknya terhadap bangsawan jawa yang memingit anak gadisnya sebagaimana yang ia alami.

    “Peristiwa negatif yang dialami seseorang tidak serta merta membuatnya tidak sejahtera, dalam kondisi perempuan tidak dapat memilih sekalipun, pemaknaan ulang membuka peluang bagi perempuan untuk menjadi sejahtera. Menjadi sejahtera adalah menajadi diri yang telah bebas dari upaya mencapai kesempurnaan. Menjadi sejahtera adalah menjadi diri sendiri dengan menerima ketidaksempurnaan yang dimiliki”.

    Dalam bab jebakan takdir, desain tubuh perempuan (Rahim & V*gin*) menetukan identitasnya, perempuan memiliki kewajiban baik secara biologis dan psikologis untuk merawat anak, perempuan dituntut untuk menjadi ibu, padahal dalam kenyataannya tidak semua perempuan ditakdirkan untuk menjadi ibu. Pendefinisian ini mempersempit lingkup peran perempuan, padahal banyak peran diluar sana yang masih bisa dimiliki oleh perempuan.

    “Hidup perempuan belumlah usai saat ia tidak dapat menjadi ibu, ia justru mati jika hanya melekatkan identitasnys hanya pada satu fungsi saja”

    “Tiap individu memiliki dorongan dalam diri untuk bertumbuh dengan lebih baik melampaui apa yang dapat dilakukan dengan kondisi biologisnya”.

    Melalui penyampaian penulis yang berimbang, bagi saya dapat memberi pemaknaan yang luas tentang berbagai hal yang identik dengan dunia perempuan.

    Semoga review ini bermanfaat, Terima Kasih!



  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Postingan Populer